Inilah PSSI-ku !

Akhir abad ke-19, bermodalkan semangat persatuan dan kesatuan, sejumlah pemuda Nusantara mencari cara menggalang semangat nasionalisme bangsa. Di kala kemiskinan dan kesengsaraan rakyat yang semakin menjadi ketika kolonialisme Belanda mengerogoti kesejahteraan Nusantara, rakyat Indonesia berjuang untuk membentuk sebuah perlawanan terhadap pemerintah kolonial.

Di tengah keadaan itu dan hiruk pikuk ideologi besar seperti komunisme, nasionalisme, hingga sosialisme, kemudian munculah pencerahan, bernama sepak bola. Ibarat di zaman Aukflarung yang mengobarkan semangat masyarakat Eropa pada abad ke-18, olahraga itu bertansformasi tidak hanya menjadi produk kebudayaan, tetapi menjadi produk politik, yang di dalamnya terkait erat soal identitas dan spirit kebangsaan atau nasionalisme Indonesia.

Seperti beberapa ideologi besar itu, sepak bola pun tumbuh menjadi counter culture terhadap perkembangan masyarakat terhadap kolonialisme bangsa Eropa. Karena, di zaman itu tak jarang diskriminasi kelas terjadi hingga merambah dalam urusan sepak bola yang menjadi olahraga populer di Hindia Belanda. Klub-klub pribumi dilarang tampil melawan klub Eropa. Untuk menumpang bermain di lapangan milik Belanda, pemuda Nusantara pun harus rela kehilangan asa.

Atas dasar itulah, pada 19 April 1930, lahir Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia (sekarang PSSI) sebagai puncak keresahan masyarakat pribumi terhadap perlakukan diskriminatif yang menyakitkan hati. Apalagi, ketika itu, pemerintah kolonial hanya memperhatikan bond-bond Belanda dan anggota pemain kulit putih dalam perkumpulan yang dikenal sebagai Nederland Indische Voetbal Bond (NIVB).

Dalam konteks ini, jelas PSSI lahir tidak hanya dijadikan sebagai protes atas sikap disriminasi tersebut, melainkan sebagai simbolisasi perjuangan bangsa dan salah satu pintu gerbang menuju kemerdekaan Indonesia. Maka tidak heran pula para politikus dan pejuang pergerakkan bangsa kemudian berubah menjadi sosok penting dalam urusan sepak bola. Ikrar sumpah pemuda dijadikan ikatan batin bagi mereka dan sejumlah pemain di lapangan hijau.

Pahlawan

Salah satu contoh bentuk perjuangan itu dapat kita dari kegigihan sang pendiri PSSI, Ir Soeratin Sosrosoegondo. Lulusan insinyur lulusan Jerman itu terus menggunakan sepak bola sebagai wadah meningkatkan nasionalisme bangsa. Bersama salah satu penggagas sumpah pemuda, Dr.Soetomo, Soeratin beberapa kali mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh sepak bola di Solo, Yogyakarta, dan Bandung untuk menyalurkan gagasannya itu. Ia pun rela keluar dari perusahaan konstruksi besar milik Belanda demi mengurusi sepak bola Nusantara.

Belum lagi, kisah Bung Hatta, Sutan Sjahrir, Husni Thamrin hingga Tan Malaka yang juga pernah mengobarkan api semangat lewat sepak bola. Mereka tidak hanya menjadi penggemar, melainkan menjadi pesepak bola tangguh. Rosihan Anwar dalam bukunya berjudul Sutan Sjahrir: Negarawan Humanis, dan Demokrat Sejati menyebut bahwa Sjarir adalah gelandang tengah yang hebat. Seperti Bung Hatta, ia pun sempat menjadi anggota klub sepak bola bernama LUNO (Laat U Niet Overwinnen) di Bandung.

Tan Malaka dalam buku Tan Malaka: Bapak Republik yang Dilupakan karangan Arif Zulkifli disebut sebagai pemain sepak bola lincah yang memiliki tendangan kencang. Selama tinggal di Harleem pada 1914-1916, ia pun pernah menjadi pemain profesional klub Viugheid Wint. Bahkan, ketika dalam kondisi sakit karena sering terluka lantaran kakinya tak bersepatu, nafsu bermain sepak bola Tan Malaka pun tidak padam.

Muhammad Husni Tamrin, seorang politikus Volkraad atau Dewan Rakyat juga dikenal sebagai pecandu sepak bola. Dalam Ensiklopedi Pahlawan Indonesia dari Masa ke Masa disebutkan pada 1932, Thamrin pernah menyumbangkan dana sebesar 2000 Gulden untuk mendirikan lapangan sepak bola bernama Voetbalbond Indonesia Jacatra (VIJ). Letak lapangan yang ada di daerah Kwitang, Jakarta itu pun menjadi tempat pertama yang dibangun untuk rakyat pribumi menyalurkan hobinya bermain sepak bola.

Lapangan itu kemudian menjadi, tempat pelaksanaan Kejuaraan Nasional II PSSI. Di pertandingan puncak yang mempertemukan VIJ melawan PSIM, Thamrin secara khusus meminta Soekarno, untuk melakukan tendangan pertama petanda dibukanya pertandingan tersebut. Setelah itu, pribumi pun bisa bergembira, karena sepak bola kemudian mengubah keputus-asaan menjadi gelora semangat Indonesia. Sembari menuju gerbang kemerdekaan, Nusantara pun perlahan mulai unjuk gigi melalui sepak bola kepada dunia.

Tinta emas

Awal mula tinta emas kesuksesan bermula ketika digulirkannya kompetisi kejuaraan nasional PSSI ke III pada 1938 di Surabaya. Saat itu, pribumi yang bargabung di VIJ berhasil mempermalukan Soerabajasche Indonesische Voetball Bond (SIVB) yang memakai sejumlah bintang dari NIVU (pengganti NIVB) dengan skor 2-1. Takjub melihat kelincahan pribumi yang tanpa alas kaki memainkan kulit bundar, NIVU akhirnya memutuskan bekerja sama dengan PSSI pada 15 Januari 1937,

Berkat kerjasama yang dikenal sebagai Gentlemen's Agreement itulah, Nusantara kemudian mendapatkan kesempatan untuk tampil di Piala Dunia 1938 di Perancis. Dunia pun semakin kagum setelah PSSI dengan punggawanya yakni Tan Malaka, Maladi, Djawad, dan kawan-kawan mampu menahan imbang 2-2 kesebelasan dari China, Nan Hwa, yang sebelumnya mengalahkan Belanda 4-0, di pertandingan internasional pada 15 Agustus 1937.

Meski di Piala Dunia, Nusantara harus rela dipermalukan 0-6 oleh Hungaria, tidak ada kata putus asa menyinggapi pesepak bola Indonesia. Mereka terus berbenah, hingga menjadi pionir bagi daratan Asia untuk mengenal olahraga yang begitu digandrungi di Eropa itu. Indonesia kemudian mampu berbangga diri di kawasan Asia Tenggara hingga daratan Korea. Prestasi pun terus menghinggapi generasi emas di tingkat pemain muda hingga senior.

Tercatat setidaknya puluhan prestasi dapat diraih Indonesia. Di tiga kali penampilannya dalam kejuaraan Piala Asia Yunior, Indonesia berhasil menjadi juara pada 1962, dan dua kali runner up pada 1967 dan 1970. Dalam Kejuaraan Pelajar Asia, bahkan pemuda Indonesia mampu meraih tiga gelar berturut-turut pada 1984, 1985, dan 1986.

Prestasi itu kemuduan berlanjut ke tingkat senior. Di kejuaraan Asian Games pada 1958, Indonesia mampu meraih medali perunggu untuk pertama kalinya setelah menyingkirkan India dengan skor telak 4-1. Dalam turnamen Sea Games, era 1980 hingga 1990-an, Indonesia pun dapat dibilang cukup sukses, karena mampu meraih medali emas pada 1987 dan 1991. Indonesia pun berkali-kali membungkam sejumlah negara besar Asia, seperti Taiwan, Hongkong, Jepang dan Korea Selatan.

Pecah belah

Melihat sepenggal fakta sejarah ini, rasanya sangat bertolak belakang dengan kenyataan sekarang. Nilai-nilai historis itu seperti diabaikan oleh sejumlah cengkaraman politisi busuk yang merajalela dalam dunia sepak bola. Tidak ada lagi, sosok pahlawan sepak bola yang tulus berjuang demi mengharumkan nama Indonesia. Catatan sejarah dan prestasi emas itu kemudian seperti terkurung dalam kotak kelam.

Pengorbanan dan cita-cita awal didirikannya PSSI sebagai salah satu pilar mewujudkan harga diri melalui prestasi seperti mati suri saat ini. Meski ada sedikit prestasi dibalik sejarah kelam ini, seperti kejuaraan muda di Hongkong, dan lolos ke babak kedua Pra-Piala Dunia, faktanya sangat jarang rakyat menonton pertarungan olahraga sehat selama 2x45 menit di lapangan.

Keributan suporter, praktik korupsi, hingga konflik tiada henti lebih menjadi inti sepak bola tanah air kurang lebih beberapa tahun belakangan ini. Jutaan pendapat, umpatan kekesalan masyarakat akibat prestasi yang tak kunjung datang, pun dijadikan ajang saling serang bagi sejumlah pengurus yang bertikai. Tak ada lagi, kebersamaan untuk mencari prestasi. Kisruh yang tak kunjung terselesaikan itu, makin lama makin menjengkelkan.

Kepentingan para elit yang berkepentingan itu, semakin memangsa dan mengorbankan prestasi. Kedua kubu, PSSI dan Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) yang saling berseteru memperebutkan kuasa, hanya menampilkan bahwa sepak bola hanya urusan ego mereka semata. Prestasi sepak bola pun menjadi bola mati yang hanya menjadi mimpi anak negeri.

Rasanya, sudah habis kata untuk menyadarkan kedua pengurus yang berseteru itu. Masyarakat pun sudah bosan dengan kosakata, rekonsiliasi yang terus terdengar di sejumlah media. Bukannya sadar bahwa seantero negeri ini rindu akan prestasi, beberapa pengurus bertikai itu justru terus bermanuver dengan muslihat, dan terus saling tarik urat. Anak bangsa pun seperti dipecah belah dalam pusaran konflik itu.

Paling anyar, lihat saja, babak baru perseteruan ini kembali memanas ketika KPSI membuat PSSI tandingan setelah menggelar kongres luar biasa (KLB) di Ancol beberapa waktu lalu. Bahkan, setelah adanya dualisme kompetisi (IPL dan ISL) dan organisasi, sekarang dualisme pun merambah ke tim nasional. Para pemain tim "Garuda" yang ingin membela negara di tingkat asia dan dunia pun yang menjadi korban dengan adanya situasi ini.

Fakta bahwa PSSI pimpinan Djohar Arifin pernah membuat kesalahan dengan menambah jumlah dan memasukan beberapa klub ke IPL memang cukup sulit dibantah. Apalagi, PSSI juga terkesan terlambat untuk melakukan rekonsiliasi yang baru digulirkan di akhir batas deadline FIFA. Akan tetapi, sejumlah jalan untuk menyelesaikan perselisihan ini urung diambil sejumlah pihak, sehingga tidak ada titik temu dari persoalan ini.

Tidak ada lagi kata persatuan dan kebesaran hati dari kedua kubu untuk membuktikan kepada publik sepak bola Indonesia yang rindu akan prestasi. Pada akhirnya konflik itulah yang mengakibatkan kemunculan sejarah buruk bagi tim nasional senior Indonesia, salah satunya ketika kalah 0-10 atas Bahrain. Belum lagi sejumlah kegagalan di tingkat final beberapa kejuaraan di Asia Tenggara.

Kembalikan riwayat PSSI

Harusnya kedua pengurus yang bersiteru bisa melihat, bagaimana seorang pemimpin PSSI, Soeratin, rela meninggalkan pekerjaannya dengan penghasilan 1000 gulden untuk membangun semangat nasionalisme bangsa melalui sepak bola. Bahkan, Soeratin pun harus hidup dalam kemiskinan hingga akhir hayatnya, karena tidak mampu menebus obat ketika sakit. Dia pun tidak meninggalkan perusahaan besar dengan kegemilangan materi, kecuali hanya organisasi yang dicintainya, yaitu PSSI.

Rakyat sejatinya sudah bosan dengan kesibukan kedua pengurus yang saling tarik urat dengan manuver dan alasan penuh muslihat. Tanyalah ke masyarakat pecinta sepak bola sekarang, apa yang diharapkan untuk sepak bola? Jawabannya hanya satu, yaitu prestasi, titik. Seyogyanya harapan itu, tidak perlu dimainkan dengan pentas arogansi dan pameran basi sejumlah pengurus yang tak rela kehilangan posisi.

Hari ini, tepat 82 tahun PSSI menjadi bagian kehidupan sepak bola tanah air. Sepanjang puluhan tahun itu pula, masyarakat menanti munculnya pahlawan-pahlawan sepak bola baik di dalam maupun luar lapangan seperti Soeratin, Bung Hatta, hingga Tan Malaka. Semestinya pengurus itu sadar, bahwa meskipun ada seribu kali KLB, akan tetap sia-sia jika dendam PSSI dan KPSI itu terus tercipta. Jika saja, sejumlah pengurus itu rela mengesampingkan egonya demi perbaikan sepak bola, tidak ada kata sulit untuk membuat sejarah baru seperti riwayat PSSI puluhan tahun itu.

Selamat ulang tahun PSSI...

Posted by
Unknown

More

Cerita Tentang Sepakbola (2)

Menjadi seorang Pesepakbola tidaklah mudah..
perlu kerja keras yang tak kenal lelah dan semangat pantang menyerah! saat ini sudah banyak terdapat pemain sepakbola yang memiliki Skill (kemampuan) yang luar biasa. namun kebanyakan tidak diikuti dengan sikap dan perilaku diatas lapangan yang baik pula.
Tidak mudah memang saat berada dilapangan dengan semangat yang menggebu-gebu, dengan benturan fisik yang kerap terjadi untuk menahan emosi yang melanda setiap pemain. untuk itu setiap pemain dituntut untuk selalu meredam emosinya. karena Sepak Bola bukan lah permainan untuk para pegulat atau pemain Smack Down tapi permainan untuk para seniman lapangan hijau yang memiliki bakat yang akan terus berkreasi dengan keindahannya yang tak pernah terhenti!

karna itu gua suka miris kalau melihat perkelahian di lapangan saat pertandingan berlangsung, itu sama sekali ga keren! ga mencerminkan jiwa Pesepakbola sejati yang menjunjung tinggi sportifitas. karena menang dan kalah biasa dalam suatu pertandingan yang terpenting dimana seorang pemain telah menunjukan kemampuan terbaiknya terlepas dari bagaimana nanti hasil dari pertandingan tersebut. seharusnya bisa menerima kekalahan dengan tersenyum dan mengucapkan selamat kepada tim pemenang adalah harapan bagi setiap pecinta olahraga ini. tanpa kekerasan, penghinaan, dan tindakan yang tidak sportif lainnya.

maka akan semakin menjadi olahraga nomer 1 di muka bumi yang paling digemari jika Sepakbola bisa seperti itu.

 "mengedepankan emosi tidak akan merubah hasil dari suatu perjuangan. terima hasilnya, perbaiki, dan jadi yang lebih baik"

Posted by
Unknown

More

Cerita Tentang Sepakbola


Menjadi seorang pemain sepakbola terkenal adalah sebuah impian gua dari kecil. terlebih bisa punya kekayaan yang cukup dan disukai banyak orang.
entah dari sekian banyak cita-cita dimasa keecil dahulu, gua pengen banget jadi pesepakbola. ga pernah ada dipikiran gua jadii seorang dokter, polisi, pengusaha, dan pekerjaan lain yang menjajanjikan.
karna dengan sepakbola gua bisa merasakan kesenangan yang ga bisa dijelasin dengan kata - kata, sebuah perasaan yang pengen gua nikmatin terus menerus, sampai gua bener - bener ga bisa buat berjalan dan menendang lagi.
perasaan ini ga ada disaat gua melakukan kegiatan lain yang juga suka seperti badminton, voly, renang. cuma sepakbola !
gua lahir di keluarga yang ga punya tradisi atau keturunan pesepakbola. untuk itu gua pengen buat garis keturunan keluarga gua sedikit berubah, dengan ada seorang pesepakbola disana. Amin.
gua sadar untuk mewujudkan semua itu ga mudah, tapi gua percaya semua pasti ada jalan dan selama gua mau, ya gua yakin insyaallah bisa !
sekian, bersambung…
“akan ada jalan yang ditunjukan oleh Sang Pencipta, selama kita mau untuk berusaha dan tak pernah menyerah”

Posted by
Unknown

More

Sabar dan Sabar


Sabar, kata yang sudah tidak asing lagi ditelinga kita. kita sering mendengar orang berkata “sabar ya” “yaudah sabar aja sih” dbl (dan banyak lagi).
kesabaran ada batasnya, contohnya tidak mungkin kan jika seseorang setiap hari ditindas dan diperlakukan seperti binatang akan tetap sabar dan rela. pasti didalam hati kecilnya dia punya perasaan kesal dan ingin melawan. walaupun dia tak bisa.
untuk itu jangan lah memperlakukan seseorang semau kita. ingat! hak untuk bahagia bukan hanya milik kita, tapi orang lain juga.
tingkat atau batas kesabaran manusia berbeda beda. tergantung dari sifat, karakter dan kejernihan hati.
sekian :)
“jangan karna hanya karna dia diam, maka menandakan dia dapat menerima semuanya. mungkin saja dia diam karna sedang berfikir untuk jauh dari anda!”

Posted by
Unknown

More

Masa Depan

Terkadang kerap terbayang dalam benak, kalau masa depan gue nanti akan seperti apa ya..
akan sesuai dengan impian  gue atau ga!
karena berbagai cara yang gue tempuh selama ini untuk meraih cita-cita itu saat ini seperti kelam. entah apa yang terjadi!


Orang tua yang dulu sangat mendukung gue, sekarang sudah mulai berkurang perhatiannya. hingga mereka pernah berkata " jangan hanya fokus pada satu kegiatan, karna kamu ga bakalan tau nanti tuh kehidupan kamu bakalan seperti apa!"
karna itu, gue mulai berfikir apakah gue harus tetap fokus pada impian gue!
atau mulai melakukan hal baru demi masa depan gue nanti!


waktu yang mungkin akan menjawabnya. gue akan lakukan apa yang gua yakin dan yang gua bisa. sebaik mungkin!
Demi mencapai cita-cita gue dari kecil. walaupun nanti gagal tapi setidaknya gue udah mencoba dengan segala yang gue bisa.


lihat 5-10 tahun yang akan datang, apakah cita-cita gue akan tercapai ?
atau gue hanya menjadi seorang yang gagal ?


Thanks.


"Kehidupan yang akan datang tidak ada yang tau. namun, semua yang terjadi kelak, adalah buah dari jerih payah saat ini!"



Posted by
Unknown

More

Hello !


Selamat Datang di blog gue!
oke blog ini gue buat sebagai sarana gue untuk menuangkan pemikiran yang ada di otak gue.
buat yang pengen tau tulisan-tulisan asli bikinan gue, kunjung terus blog ini.
dan jangan pernah bosen.
oke di post gue yang pertama ini gua mulai dengan perkenalan aja.
buat yang belum tau gue, gue seorang remaja laki-laki.  nama gue Ary Ismail just call me Aray.
sekarang gue duduk di bangku sekolah menengah atas.
gue tinggal di cikarang, bekasi. buat alamat lengkapnya cari tau sendiri aja ye.
gue kelahiran tahun ’95.
hobi gue tentunya bermain sepakbola. dan hobi gue itu yang gue harap nanti jadi profesi gue. doain aja!
kalo gue orangnya kaya gimana-gimana ya itu mah orang yang menilai. jadi kalau pengen tau gue tuh kaya gimana ya kenal lebih jauh dulu gue. oke!
mungkin segini aja kali sesi perkenalannya. yang mau tau tentang gue, ya bolehlah mention gue di twitter.
oia, yang mau gue kasih tau. disetiap tulisan bikinan gue sendiri, di akhirnya gue akan kasih sedikit kata-kata.
oke. Thanks
Assalamualaikum
“saat kita membeli buku, yang dilihat pertama pasti covernya. menarik atau tidaknya cover tersebut. lalu baru kita lihat dalamnya. setelah kita lihat dalamnya, jika memang isinya bagus dan menarik maka sedikit demi sedikit kita akan lupa pada covernya”

Posted by
Unknown

More
Powered By Blogger
Semua yang ada di blog ini dilarang untuk di salin kembali. Diberdayakan oleh Blogger.

Entri Populer

Pengikut

Follow gue

Weather

Copyright © / justAray

Template by : Urangkurai / powered by :blogger